Catatan Film “Eternal Sunshine of the Spotless Mind” (2004)

Bagaimana jika (mantan) kekasihmu tiba-tiba tak lagi mengenal siapa dirimu ketika kamu justru masih sangat menyayanginya? Apabila rasa perih itu terasa begitu menyakitkan untuk dilawan sendiri, cobalah untuk melupakan segala hal tentangnya. Namun semudah itukah perkara menghapus kenangan? Orang bijak barangkali bisa berkata, “Menghapus kenangan tidak semudah menghapus pensil di kertas, tetapi sesulit menghapus tinta yang sudah terlanjur kau torehkan di kertas. Hanya ada dua pilihan untuk menghapusnya: membenamkannya dalam-dalam dan tinta itu masih tetap ada atau buang bekas tintanya dengan melukai permukaan kertasnya.”

Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) adalah salah satu film yang berhasil bermain-main dalam premis patah hati itu. Cerita dimulai dengan sebuah pertemuan tidak sengaja yang biasa saja di sebuah gerbong kereta yang sepi antara Joel Barish(Jim Carey) dan Clementine Kruzinsky (Kate Winslet). Joel, pekerja kesepian yang bosan dengan rutinitasnya, dan Clementine yang tampak lebih ceria tetapi menyimpan kepribadian yang impulsif dan tidak stabil, segera saja saling jatuh cinta di musim dingin yang tak istimewa itu. Lalu, warna-warni rambut Clementine menjadi bagian dari kenangan Joel, dan kecanggungan Joel menjadi bagian dari kemajemukan Clementine. Namun, di satu titik mereka malah menyadari bahwa perbedaan karakter keduanya memang sangat melelahkan untuk kemudian mereka kelola dalam sebuah hubungan cinta.

Hingga tiba suatu masa, Joel menemui Clementine yang masih dicintainya dalam pertemuan yang dingin, asing dan bahkan keduanya seolah tak pernah bertemu sebelumnya. Rasa heran Joel pun terungkap ketika Joel mendapati kartu ucapan dari Lacuna. Inc yang menyatakan bahwa Clementine telah menghapuskan segala kenangan bersama dirinya. Joel pun kemudian turut mengikuti program jasa penghapusan kenangan di Lacuna. Inc untuk menghapus kenangannya akan Clementine.

Joel dengan segala perasaan kesepiannya kemudian membawa segala benda kenangannya tentang sang kekasih, Clementine, untuk memulai prosedur penghapusan ingatan. Sayangnya, di dalam ketidaksadaran, perasaan Joel berkehendak lain dengan pikirannya: dia tak ingin segala kenangannya bersama Clementine terhapus begitu saja oleh alat ini. Joel dan Clementine pun berlari-larian dalam ketidaksadaran agar prosedur penghilangan ingatan itu tidak mampu menjamah kenangan-kenangan indah yang telah mereka bangun sekian lama.

Ironis memang apa yang dilakukan Joel di alam bawah sadarnya, tapi barangkali seperti itulah kita dengan segala kenangan yang kita miliki. Pada satu sisi, sungguh ingin rasanya menghapus masa lalu yang hanya akan membawa luka dan kesedihan di masa kini, tetapi di sisi lain, ada saja kenangan manis yang membuat kita tersenyum mengingatnya, meskipun kita pun tahu bahwa akhir cerita dari ingatan itu tak selamanya indah.

“Jangan bebani kenangan dengan kesalahan yang telah berlalu”, begitu kata penyair William Shakespeare. Kenangan memang selalu memiliki sesuatu yang indah ketika kita mengingatnya, asalkan kita mampu melepaskan setiap beban penderitaan yang juga turut hadir dari kenangan itu. Hampir tidak mungkin kita dapat menghapus kenangan yang telah kita miliki, kecuali teknologi yang dikembangkan Laguna.Inc itu benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Mekanisme pertahanan psikologis kita hanya mengenal represi atas ingatan-ingatan traumatis itu. Ya, layaknya tinta dalam kertas yang tak pernah benar-benar mudah terhapus dengan correction pen.

Bagaimana Joel berkejar-kejaran dengan mekanisme penghapusan kenangan setelah ingatannya tentang luka terhapus lebih dulu sebenarnya menunjukkan bagaimana sebaiknya kita menyikapi setiap kenangan yang ada. “Forgive but not forget “, begitu saya pernah membaca tulisan Darmanto Jatman tentang bagaimana menyelamatkan kenangan indah kita dari ingatan-ingatan traumatis yang mengiringinya. Memang pada prakteknya sulit untuk memaafkan dan menerima setiap kenangan pahit kita. Namun menghapus seluruh kenangan itu adalah sebuah perbuatan yang tidak hanya mustahil, tetapi juga tidak sehat bagi mental kita.

Lalu bagaimana caranya? Dalam kajian psikoanalisis yang dimotori Sigmund Freud, kita mengenal adanya metode katarsis, yaitu melepaskan beban-beban kenangan dan kekesalan yang kita miliki melalui tindakan-tindakan yang emosional tetapi tetap terkontrol. Namun, ibarat endapan kopi di dasar gelas, kadang endapan itu justru kembali tercampur dengan air apabila teraduk dan mengkeruhkan kembali kopi kita. Meskipun memang hidup kadang harus seperti meminum segelas kopi dengan sesap pahit biji-bijinya.

Victor Frankl yang dikenal sebagai pencetus Logoterapi pernah menuliskan bahwa seringkali keinginan untuk memaknai yang tak pernah tercapai dapat menyebabkan frustrasi pada seseorang. Pun dengan hilangnya pemaknaan atas berbagai kenangan yang kita miliki. Maka pada dasarnya, kita pun dapat memilih antara hidup dengan kenangan pahit dan terus terjebak dalam frustrasi yang akan berujung pada degradasi eksistensi diri, atau memilih memberikan gula pada kenangan pahit itu lewat pemaknaan diri. Kita pun diharapkan tidak bersikap melupakan setiap kenangan pahit yang ada, karena itu justru membuatnya semakin kuat di dalam pikiran, tetapi cobalah maknai kenangan itu dan biarlah ia berlalu seiring waktu. Lalu tataplah kembali masa depan, karena hidup bukan hanya tentang masa lalu.

Sayangnya, itu semua memang seringkali hanya indah diucapkan ketika dalam bentuk teori, layaknya kalimat, “Pasti ada hikmah dari segala sesuatu yang sudah ditakdirkan Tuhan”. Sedangkan perkara menemukan makna atau hikmah seringkali hanyalah sebuah misteri yang susah dipecahkan oleh siapapun. Film ini, bagiku, justru berhasil mengolok-olok petuah-petuah bagi para penyintas patah hati itu. Secara radikal Charlie Kaufman (penulis) dan Michel Gondry (sutradara) menawarkan alat penghapus kenangan masa lalu sebagai pintasan bagi kesehatan mental para manusia patah hati, karena memaknai luka takkan pernah bisa sesederhana itu.

Cinta antara Joel dan Clementine pun bisa jadi bukan hanya tentang perjuangan mereka mempertahankan kenangan yang ada, tetapi tentang ketakutan-ketakutan mereka untuk menjelma kembali menjadi pribadi yang kesepian. Eternal Sunshine of the Spotless Mind pun menjadi film science fiction psikologis tentang cinta yang menggeledah kemanusiaan kita tentang bagaimana rasa kehilangan, kesepian dan patah hati harus selalu limbung antara haruskah ia beranjak dari pikiran atau biarkan ia menetap untuk memperkaya perasaan. “You can erase someone from your mind. Getting them out of your heart is another story.”

Versi awal tulisan ini pernah dimuat dengan judul “Tahun Baru Hapus Kenangan Pahit” di Majalah Psikologi Plus, Volume III, No. 6, Desember 2008 dan pernah pula diunggah di http://underscoresofagil.wordpress.com pada 10 Juli 2009.

Penikmat film & buku. Pendiri sineroom, kolektif sinema yg berbasis di Semarang. Akan menilik ulang film dan buku yang pernah dinikmatinya di platform ini.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store