Mainan Pun Perlu Dimanusiakan

Catatan Ringkas Film Toy Story 3 (2010)

Apa yang terjadi jika barang mainan yang kita anggap hanya sekedar benda mati itu ternyata bisa hidup seperti kita? Premis khas kisah Disney dalam Toy Story di seri ketiganya ini seolah benar-benar mencapai titik sentimentilnya. Cerita dalam Toy Story 3 bermula ketika Andy, si empunya mainan, sudah berumur 17 tahun dan sebentar lagi akan meninggalkan rumah untuk berkuliah. Diusia yang hampir dewasa, Andy sudah jarang memainkan para mainannya meskipun dia masih menyimpannya dengan baik di loteng rumah, tetapi mustahil baginya untuk membawanya berkuliah, jadi bagaimana nasib mainan-mainannya?

Bagi Woody si koboy sherrif, Buzz si astronot dan mainan lainnya, Andy bukan sekedar tuan. Lebih dari itu, bagi para mainan, Andy adalah sahabat yang telah berbagi tawa, suka, duka dan rasa sejak kanak-kanak hingga ia kini di ujung remaja. Membiarkan mainan menua sendiri di gudang, mengibahkannya pada taman penitipan anak yang selalu tidak jelas seperti apa mereka akan memperlakukan mainannya, atau membawa para mainan itu ke asrama kuliah tetapi ia akan terlihat cupu di mata teman-temannya adalah dilema lain bagi pubertas yang seringkali gagal kita pahami. Pubertas bukan soal penyesuaian diri pada perubahan fisik, tetapi juga kesiapan mental untuk menabahi setiap perasaan kehilangan yang selanjutnya pasti akan mengintai kita di sepanjang hidup.

Jika Martin Buber menyatakan relasi manusia dengan benda ( Ich-Es) dan relasi sesama manusia ( Ich-Du) adalah dua relasi fundamental manusia yang saling berlawanan, film ini malah membenturkan keduanya. Bahwa benda yang selama ini dipahami hanya sebagai objek pun ternyata harus kita pahami pula sebagai subjek. Sebagai subjek, mainan-mainan itu pun menjelma menjadi sesuatu yang memiliki emosi keterhubungan yang adekuat juga, maka mainan-mainan Andy (dan juga mainan masa kecil kita semua) membutuhkan relasi yang lebih hidup seperti dalam Ich-Du (relasi dengan manusia).

Menonton kisah para mainan ini, sebenarnya telah membawa kita untuk lebih menghargai mainan-mainan kita yang mungkin sudah usang dan terlupa. Tanpa kita sadari, mainan-mainan itu telah menemani perjalanan hidup kita yang mungkin paling menyenangkan dan membahagiakan. Ajarkan anak-anak kita untuk lebih menyayangi mainan-mainan mereka, sambil kita tengok kembali kenangan kita bersama mainan kita di masa dulu. Apabila pun suatu saat kita secara tak sengaja menemukan kembali mainan masa kecil, mungkin kita akan melihat bahwa mereka masih akan tetap tampak tersenyum seperti dulu, meskipun kadang begitu pahit perjalanan yang harus mereka tempuh. Tanpa benar-benar memanusiakan mainan, kita mungkin akan sering menemukan Lotso, boneka beruang pink lucu yang harum, tetapi bertingkah ganas karena tak mendapat pengasuhan yang penuh kasih sayang dari pemiliknya.

Lee Unkrich, sutradara film ini, dalam sebuah kesempatan pernah menyampaikan bahwa film ketiga Toy Story ini merupakan kisah tentang perubahan. Film ini memang didedikasikan kepada siapapun yang tengah menghadapi situasi transisi dalam hidup, maka kita pun di bawa bertemu dengan karakter-karakter yang tengah dihadapkan pada suatu perubahan yang besar, sehingga film ini akan menngajak kita untuk melihat bagaimana karakter itu mengatasinya. Petualangan para mainan yang tersaji sepanjang film pun lalu mengajarkan kita untuk dapat lebih dewasa dalam menghadapi setiap perubahan dalam hidup. Apabila perubahan itu adalah sebuah keniscayaan, maka bersama Woody, Buzz dan teman-teman kita pun diajak untuk berefleksi tentang bagaimana kita sebaiknya menyikapi perubahan itu dengan keyakinan yang kita miliki.

Film animasi anak ini ternyata cukup kurang ajar melarutkan perasaan kita pada rasa kesepian dan patah hati yang bisa saja dialami oleh para mainan kita di rumah.

He’ll be there for you, no matter what,” kata Andy tentang Woody dan mainan-mainnya di akhir film.

Ide pokok dari tulisan ini pernah saya tuliskan di artikel “Toy Story 3: Memanusiakan Para Mainan” yang dimuat di salah satu edisi Majalah Psikologi Plus, dan juga tulisan ‘Merayakan Kesedihan Lewat Sinema: Sejumlah Film Pilihan” di http://sineroom.wordpress.com (unggahan 17 Februari 2017).

Penikmat film & buku. Pendiri sineroom, kolektif sinema yg berbasis di Semarang. Akan menilik ulang film dan buku yang pernah dinikmatinya di platform ini.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store