Ulasan Film “Generasi 90an: Melankolia”

Pada tahun 1917, Sigmund Freud, pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang psikologi, menulis sebuah artikel klasik yang berjudul “Mourning and Melancholia”. Freud menjelaskan bahwa ‘duka’ dan ‘melankolia’ adalah dua hal yang berbeda meskipun gejolak dan manifestasi perasaan kesedihan yang ditunjukkan pada perilaku secara umum tampak sama. Freud menjelaskan bahwa melankolia lebih patogenik dibanding kedukaan yang dianggap lebih alamiah dan wajar terjadi pada siapapun ketika kehilangan seseorang yang dicintainya.

Duka memiliki objek yang jelas dan terjadi dalam kesadaraan seseorang, sehingga ia memiliki batasan ketika mereka yang berduka mampu berdamai dengan rasa kehilangannya dan menyadari bahwa yang telah hilang tak akan kembali lagi atau menemukan makna dibaliknya. Namun, melankolia lebih sulit dipahami dan diidentifikasi karena terjadi dalam ketidaksadaran seseorang. Alih-alih berdamai dengan objek kehilangannya, orang dengan melankolik akan meleburkan sebagian egonya dengan objek kehilangan itu, maka selain kesedihan yang akut, melankolia akan mengajak penyandangnya untuk terus larut dalam perasaan bersalah, tak berharga dan tidak berdaya. Baik duka dan melankolia akan acap kita jumpai dalam keluarga, teman, kerabat atau kekasih yang mengalami momen kematian seseorang yang dicintai.

Inilah yang terjadi pada sebuah keluarga dalam film Generasi 90an: Melankolia (2020), ketika Ayah (Gunawan), Ibu (Marcella Zalianty) dan Abby (Ari Irham), harus meratapi kehilangan anak sulung dalam keluarga itu, Indah (Aghniny Haque) setelah ia mengalami kecelakaan dalam sebuah penerbangan. Cerita kemudian bergulir pada kesedihan dan trauma Abby, si adik, dan juga Sephia (Tasya Namya) sahabat Indah yang mengalami perasaan duka serupa. Sesuai judulnya yang menukil istilah melankolia, benarkah film ini tentang seseorang yang mengalami kesedihan patologis itu? Atau seperti judulnya yang mencatut era 90an tetapi gagal menghadirkannya dalam konsep cerita, kecuali tahun kelahiran Indah, barang-barang jadul di gudang rumah (yang toh bisa diganti dengan barang apapun di masa kini), soundtrack film dan gaya berbusana retro para karakternya.

Soal penambahan frasa ‘Generasi 90an’ di film ini pun bagiku begitu menganggu. Sebagai sebuah intelectual property barangkali Generasi 90an diharapkan dapat mengeruk masa untuk berbondong-bondong ke bioskop, tetapi konsep film yang mengharu biru berbanding terbalik dengan keceriaan atas nostalgia dan kenangan kehidupan di tahun 1990an, yaitu ketika hal-hal yang analog belum beralih ke digital. Embel-embel Generasi 90an ini sungguh mengkacaukan ekspektasiku sebagai penonton film. Jangan berharap kita akan menemukan romantisme hubungan kaset pita dengan pensil seperti di film Galih dan Ratna atau ngobrol berjam-jam lewat telepon umum seperti Dilan dan Milea, karena Abby si tokoh utama pun lahir di tahun 2000, meskipun entah mengapa dia lebih memilih mendengarkan musik lewat walkman ketimbang spotify atau main game nintendo lawas ketimbang mobile legend di ponselnya.

Sayang sekali film ini tidak berani mengambil latar tahun 90an, padahal banyak fenomena penting yang terjadi pada rentang dekade tersebut, selain sekedar kematian Kurt Cobain yang sama dengan tahun kelahiran Indah. Pertama adalah tentang sebuah kecelakaan pesawat yang pernah menjadi duka bangsa ini di tahun 1997, yang sebenarnya dapat membuat emosi kelurga Abby menemukan konteks yang lebih nyata. Pada 26 September 1997 sebanyak 234 orang penumpang dan awak pesawat Garuda Indonesia tewas setelah jatuh di sebuah desa di Sumatera Utara. Kecelakaan itu hingga saat ini masih menjadi kecelakaan pesawat dengan korban jiwa terbanyak di Indonesia. Sedang yang kedua adalah rangkaian peristiwa sosial-politik dan juga ekonomi antara tahun 1996–1998 yang kemudian menggulingkan rezim Orde Baru melalui reformasi.

Fenomena sosial-politik di tahun 90an itu sebenarnya masih cukup jarang disinggung di film kita, sedang mereka pun butuh pengayaan perspektif lewat gejolak kehidupan keluarga sebagaimana tema besar yang diangkat dalam film ini. Hiruk pikuk reformasi dan juga duka akibat kecelakaan pesawat dengan berbagai keterbatasan alur informasi di masa itu, sebenarnya dapat menjadi refleksi yang baik atas melankolia kolektif yang pernah dialami bangsa ini. Seperti halnya melankolia yang melanda individu, melankolia kolektif membawa arus kesedihan yang akut pada para penduduknya akibat berbagai kehilangan yang terjadi paska sebuah fenomena kelam yang melanda suatu masyarakat. Barangkali sama halnya dengan perasaan kesedihan dan traumatis bangsa ini paska tragedi kelam 1965, yang sayangnya telah direpresi begitu dalam oleh kita.

Jika Orham Pamuk, sastrawan Turki, dapat memaknai Hüzün (perasaan depresi bangsa setelah masa kejayaan kesultanan Utsmani di Turki luluh lantak) melalui karya-karya sastra, mengapa kita tidak bisa memaknai fenomena melankolia kolektif itu lewat film? Bagi Pamuk, melankolia kolektif sebenarnya juga telah mengajari mereka untuk bertahan di masa-masa sulit, dan kemudian mencatatnya dalam sejarah sebagai sebuah permulaan yang terhormat untuk kembali bangkit. Kondisi melankolia memang tak sepenuhnya buruk, karena menurut Freud, orang melankolik justru dapat mulai mengenal dirinya ketika ia merasa sebagai manusia yang kerdil, egois atau pendusta. Meskipun Freud pun tak paham mengapa seseorang harus menderita dahulu untuk menemukan dirinya, tetapi melankolia dapat membuat seseorang menjadi lebih mawas diri, atau yang dalam terma Ranggawarsita di Serat Kalatida (yang juga berbicara soal melankolia kolektif) disebut eling lan waspada.

Kembali ke film, nampaknya hanya karakter Abby lah yang mendekati ciri seseorang yang melankolik. Perasaan bersalahnya karena membuat Indah menunda penerbangannya begitu menghantui hari-harinya. Bahkan tergambar cukup apik dalam adegan Abby terjatuh di kursi restoran karena bayangannya pada kecelakaan pesawat. Tampak kemurungannya yang akut itu tak lagi mampu disembuhkan lewat kebersamaannya dengan Kirana (Jennifer Coppen), sang pacar yang cukup bersimpati padanya, atau pencariannya pada sosok pengganti Indah yang gagal dia temukan pada diri Sephia. Alih-alih menemukan figur kakak, Abby justru terlibat cinta erotis dengan Sephia. Bagiku, ini penggambaran psikologi yang menarik bagi Abby, karena Kirana dianggap tidak dapat melebur dengan ego kesedihannya, Abby lebih memilih bersama Sephia yang juga mengalami duka yang sama dengannya, maka meleburlah mereka dalam melankolia (dan cinta?). Meskipun, seperti Abby, kita semua pun akan sadar bahwa Sephia ini adalah karakter yang tidak jelas latar belakang dan motifnya, termasuk jalinan cinta segitiganya dengan Bayu (Wafda Saifan) dan Indah yang sebenarnya tidak terlalu penting dalam mendukung struktur cerita.

Terus memaksa untuk melebur dalam rasa bersalah, kesedihan dan traumanya serta menolak untuk kembali hidup normal ini lah yang membuat aku yakin bahwa Abby memang tengah menuju melankolia. Namun konklusi dari proses melankolia Abby di akhir film lewat ceramah sang Ibu menurutku terlalu normatif (bahkan bahasa yang digunakan pun terlampau kaku untuk sebuah dialog Ibu-Anak) dan menyederhanakan solusi yang dapat berdampak besar dalam kehidupan seorang melankolik. Pun eksplorasi atas perasaan sentimentil Ibu (salah satunya ditunjukkan dengan kegemarannya mengoleksi barang lawas), menjadi terasa janggal ketika dia kemudian menjadi sosok bijak yang membuat Abby sadar. Padahal karakter Ibu sebenarnya berpotensi untuk menjadi sosok melankolik lain, tetapi tidak memiliki ruang yang cukup di film.

Dalam rilisnya, para pembuat film mengklaim bahwa film ini berbicara tentang “5 Stages of Grief” atau lima tahapan kesedihan manusia, yaitu penyangkalan (denial), amarah (anger), menawar (bargaining), depresi (depression), dan mengikhlaskan (acceptance). Namun aku justru tidak mampu menemukannya di dalam struktur cerita, kecuali hanyalah perayaan kesedihan yang berlarut hampir selama dua pertiga film setelah momen bersenang-senang yang canggung. Kita bahkan hanya menemukan lompatan antar tahapan itu tanpa adanya pemicu yang kuat, terutama ketika keluarga itu tiba-tiba menuju ke tahap acceptance setelah viewfinder Indah tertemu. Ya, tapi memang adegan mencuci viewfinder yang seperti memandikan bayi memang cukup ikonik dan brilian.

Bahwa melankolia yang menjadi judul film ini pun pada dasarnya berbeda dengan grief atau duka dalam pemahaman Freud seperti di awal tulisan ini juga menjadi hal lain yang mengangguku. Namun penampilan para aktor yang mampu menghidupkan emosi dengan tepat hampir di sepanjang film serta gelap-terang gambar yang menuntun kita pada emosi yang tengah dibangun menjadi salah satu yang dapat membuat kita bertahan menonton hingga akhir. Bagaimanapun, film ini menghadirkan kembali perspektif keluarga dalam menyikapi dan memaknai sebuah kehidupan, karena keluarga adalah satu hal yang bagiku sangat khas ada di Indonesia dan seharusnya terus mendapat tempat untuk dieksplorasi dalam karya sinema kita.

“Happy families are all alike, every unhappy family is unhappy in its own way” (Keluarga yang bahagia akan sama saja, tetapi keluarga yang tidak bahagia memiliki kemurungannya masing-masing), begitu kira-kira Leo Tolstoy menuliskannya dalam novel Anna Karenina.

Penikmat film & buku. Pendiri sineroom, kolektif sinema yg berbasis di Semarang. Akan menilik ulang film dan buku yang pernah dinikmatinya di platform ini.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store