Berani Jujur Saja Tidak Cukup

Ulasan Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” (2014)

Lawrence Kohlberg, seorang profesor psikologi yang cukup berpengaruh, pada tahun 1958 menulis disertasi di Universitas Chicago tentang perkembangan moral manusia yang secara umum terbagi dalam tiga tahapan. Pertama tahap pra-konvensional yang terjadi di usia anak-anak di mana baik-buruk suatu tindakan dinilai berdasarkan konsekuensinya langsung, yaitu apakah suatu tindakan akan berimbas pada hukuman untuknya atau tidak. Kedua tahap konvensional di mana seseorang sudah menilai tindakan berdasarkan pandangan atau harapan masyarakat, sehingga ia akan berusaha menjadi anak baik ( good boy). Ketiga tahap pasca-konvensional yaitu ketika seseorang bertindak sesuai prinsip dan nilai universal sehingga melihat dampaknya secara luas dan tidak lagi egosentris dengan mengukur dampaknya pada diri sendiri.

Upaya pencegahan perilaku korupsi seharusnya diarahkan agar masyarakat sadar atas konsekuensinya terhadap hal-hal yang bersifat universal, seperti kesejahteraan sosial atau penghormatan atas hak asasi manusia. Sayangnya, kita seakan mandeg di tahap pra konvensional dalam pencegahan korupsi. Promosi pencegahan korupsi pun masih berharap pada ancaman dan ‘efek jera’ hukuman pidana, alih-alih dampaknya secara terstruktur terhadap tatanan kehidupan bangsa. Pun upaya promosi pencegahan yang disajikan melalui film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” yang didukung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ini.

Yan ( Alex Komang), seorang pejabat pemerintah yang dikenal lurus. Tidak diketahui Yan bekerja di instansi mana dan menjabat sebagai apa, juga apa kewenangan, tugas, fungsi dan tanggung jawab yang diembannya. Kita hanya tahu bahwa instansi tempat Yan bekerja tengah mengurus sejumlah proyek besar pelabuhan yang juga tengah diincar oleh anak Yan sendiri, Satria (Fauzi Baadila), seorang kontraktor muda. Satria menginginkan proyek itu setelah Hasan (Ibnu Jamil) seorang anggota DPR muda yang juga tunangan adiknya, Dian (Adinia Wirasti) mengajaknya berkomplot menguasai proyek itu. Masalah makin pelik ketika Satria merekrut kakaknya, Firman (Rifnu Wikana) yang tengah menganggur dan patah hati sebagai kurir suap untuk memuluskan proyek.

Yan enggan membantu Satria dan memutuskan pensiun dini setelah mengaku tidak tahu kepada koleganya jika perusahaan anaknya yang memenangkan proyek itu. Pada akhirnya, kita mudah menduga bahwa kongkalikong anak-anak Yan itu akhirnya terhenti setelah Firman terkena operasi tangkap tangan ketika menyerahkan uang suap. Lalu tanpa kepergok aparat penegak hukum apakah perilaku korupsi mereka akan berhenti? Film ini rupanya lebih sibuk membumbui diri dengan tragedi cinta Dian dan Hasan yang ternyata sudah beristri, atau skandal cinta Firman dengan Nisa (Maryam Supraba) yang merupakan istri Jaka (Ringgo Agus) supir pirbadi Yan, ketimbang menunjukkan efek korupsi dalam berbagai aspek selain hukuman pidana.

Yan mungkin memang pegawai yang jujur, tetapi dia tidak melakukan perubahan apapun di instansinya meskipun tampak menjabat posisi yang cukup tinggi. Bahkan pribadinya yang lurus pun gagal menjadi teladan bagi anak-anaknya untuk memiliki integritas yang sama dengan dirinya. Tanpa ada hukuman dari Negara, seolah Yan tidak punya apa-apa lagi untuk meluruskan perilaku korup anak-anaknya.

Saran saya untuk Pak Yan, daripada pensiun dini, jadilah tenaga pengajar di instansi pendidikan dan pelatihan (diklat) agar mampu mendidik pegawai-pegawai muda untuk memiliki integritas seperti dirinya. Lalu, bersama sang istri yang seorang dosen filsafat, ajaklah anak-anak untuk memahami dampak tindakan korupsi secara universal dan bukan hanya menuntut mereka menjadi anak baik atau takut pada hukuman saja. Karena Yan sudah membuktikan sendiri bahwa berani jujur saja tidak cukup.

Daftar Pustaka
[1] Hurlock, E.B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa: Istiwidayati & Soedjarwo. Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Originally published at http://underscoresofagil.wordpress.com on July 9, 2020.

Penikmat film & buku. Pendiri sineroom, kolektif sinema yg berbasis di Semarang. Akan menilik ulang film dan buku yang pernah dinikmatinya di platform ini.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store