Aquaman dalam Lakon Bima Suci

Menemukan Wrekudara dalam Karakter Arthur Curry

Pada akhir abad ke-18, Yasasdipura I, seorang pujangga keraton Surakarta, menuliskan tafsir perjalanan mistis-spiritual karakter wayang Werkudara alias Bima, dalam serat yang dikenal sebagai Serat Cebolek. Cebolek diambil dari nama sebuah desa di Tuban yang konon merupakan daerah asal Kyai Mutamakkin. Serat Cebolek mengambil fragmen persidangan Kyai Mutamakkin oleh Kyai Anom (yang berpaham konservatif) karena dianggap mengajarkan ilmu hakekat kepada masyarakat luas dan dapat menyesatkan umat seperti Syeh Siti Jenar. Adu tafsir atas kisah Bima Suci dalam persidangan itulah yang menjadi tulang punggung serat itu.

Lakon Bima Suci telah menjadi lakon wayang paling dikenal masyarakat dan telah diteliti secara lintas disiplin ilmu karena dianggap sebagai analogi paling tepat bagi pemahaman atas sinkretisme ajaran Islam dan Jawa. Lakon Bima Suci mengkisahkan Werkudara yang tengah mengemban tugas dari gurunya, Resi Durna, untuk mencari tirta perwita (air suci) agar mencapai kesaktian paripurna sebelum bertempur di medan Bharatayuda. Werkudara kemudian memulai pencariannya dengan naik ke puncak gunung, menemui Kawah Candradimuka, bertempur sengit dengan para monster hingga menyelam ke dasar samudra.

Pada kedalaman samudra inilah akhirnya Werkudara bertemu dengan Dewa Ruci. Sosok yang sangat mirip dengan Werkudara tetapi dalam bentuk kecil dan berbahasa alus dengannya. Anehnya, makhluk kecil ini meminta Werkudara yang bertubuh tinggi besar untuk masuk ke dalam dirinya melalui telinganya. Setelah itu yang terjadi adalah deskripsi puncak pengalaman mistik yang dialami Werkudara.

Kisah Bima Suci dianggap sebagai analogi paling mudah untuk memahami manunggaling kawula-Gusti yang menjadi salah satu tujuan pencarian makna hidup paling paripurna bagi manusia Jawa. Hal ikonik dalam kisah Bima Suci ini adalah dalam prosesnya di dalam tubuh Dewa Ruci, Werkudara menemui sejumlah warna yaitu: merah, hitam, putih dan kuning yang dapat ditafsirkan dalam beragam pemahaman sebagai bagian proses mencapai pengalaman mistis.

Film Aquaman (2018), yang kisahnya seperti meminjam premis legenda Raja Arthur dari Inggris, tanpa diduga justru membuatku teringat pada lakon Bima Suci. Belokan cerita Aquaman yang mengajak Arthur Curry (tuh kan namanya aja pake nama Raja Arthur) berpetualang mencari trisula emas peninggalan leluhur Atlantis dari gurun Sahara, perbukitan di Italy hingga masuk ke dasar laut, alih-alih hanya mencabut pedang dari batu, adalah kisah Werkudara mencari tirta perwita di mataku. Selain tubuh yang sama-sama digambarkan kekar, tumbuh di lingkungan yang keras dan bersaing dengan saudaranya sendiri untuk menjadi penguasa kerajaan, motif Arthur Curry dan Werkudara berkelana mencari pusakanya adalah sama-sama ingin mencapai kesaktian paripurna demi menghadapi perang besar merebut tahta kerajaan.

Kedua tokoh kita ini pun memulai petualangannya setelah mendapatkan titah dari sang guru. Arthur Curry mengamini permintaan Vulko untuk mencari trisula emas, sedang Werkudara menuruti perintah tugas dari Resi Durna. Vulko dan Durna juga memiliki kedudukan penting di kerajaan dan merupakan guru dari kedua belah pihak sedarah yang tengah bertikai, Aquaman versus Raja Orm dan Pandawa versus Rahwana. Namun, jika Vulko memihak kubu Arthur Curry, Durna konon justru memihak murid lainnya, Duryudana dan para Kurawa yang telah menduduki singgasana Astinapura.

Resi Durna pun sejatinya berharap Werkudara musnah dalam pencariannya yang terjal atas tirta perwita itu. Karakter Vulko pun sejatinya berpotensi abu-abu seperti Durna, karena toh di bawah rezim Orm dia menduduki jabatan mentereng sebagai patih dan sejatinya juga berkepentingan agar rencana Orm memakmurkan Atlantis berhasil tanpa hadangan Aquaman. Sayang, ini adalah kelemahan utama film Aquaman karena semua karakter dibuat serba hitam putih dan tanpa motif yang jelas kenapa mereka menjadi jahat atau ditakdirkan menjadi pahlawan.

Arthur Curry dalam penjelajahannya mencari trisula emas memang tidak mengalami penyatuan dengan Dewa Ruci, tetapi warna-warna dominan yang digambarkan film ini sejak Arthur menyelam ke lautan seolah membawa pengalaman Werkudara ke citra visual film Aquaman. Lihat saja ketika ribuan makhluk laut yang gagal berevolusi dan menjadi monster ikan menyerang Arthur Curry dan Hera, layar berubah menjadi sangat merah. Lalu pada pertemuan Arthur Curry dengan sang Ibu, warna putih mendominasi layar, baik pantai, air terjun bahkan baju dan rambut sang Ibu. Selanjutnya Arthur pun masuk ke dalam gua yang hitam dan gelap, tempat di mana Raja Atlan bertapa hingga moksa bersama pusakanya. Lalu warna kuning akhirnya ditemui Arthur setelah mengatasi sang naga penunggu pusaka dan mengangkat trisula emasnya. Apakah kemunculan keempat warna ini adalah sebuah kebetulan semata atas dua kisah beda kutub ini? Wallahualam.

Penelitian paling kontemporer tentang lakon Bima Suci dilakukan oleh YF. La Kahija yang menelitinya dari kaca mata psikolog. Dalam penelitian berjudul Menerobos Kelengangan, Penelitian Psikostruktural-Semantis terhadap Ekspresi Pengalaman Mistis dalam Lakon Bima Suci (2003), La Kahija menjelaskan bahwa keempat warna yang ditemui Werkudara dalam perjalanan mistisnya itu adalah salah satu bagian dari struktur kedalaman jiwa manusia yang disebut sebagai ati. Ati ini merupakan sarana untuk masuk ke dalam sensitivitas diri terdalam manusia dalam suksma yang mendekatkan manusia untuk menuju manunggaling kawula Gusti.

Keempat warna yang ditemui Werkudara tersebut menunjukkan sifat ati yang dapat bersifat konstruktif, maupun destruktif, karena ati adalah isi jiwa manusia, sementara warna adalah bentuknya. Ati hitam, merah dan kuning pada dasarnya menghambat cipta dan karsa manusia, di mana ati kuning akan menghambat cipta (pikiran), sementara ati merah dan hitam akan menghambat karsa (kehendak) manusia. Oleh karena itulah, hanya ati putih yang akan mengantarkan manusia menuju manunggaling kawula gusti di dalam suksma.

Sialnya, meskipun disutradari oleh orang Asia, Aquaman gagal total dalam membawa kekayaan filosofi Timur seperti yang terkandung dalam lakon Bima Suci. Layaknya adaptasi Barat lainnya atas kisah-kisah kearifan budaya Timur yang hanya berhenti di kulit dan melupakan substansi, Aquaman hanyalah film superhero khas Hollywood lawas yang membawa pesan kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

Pusaka yang diambil Arthur Curry dan menjadikannya Aquaman pun justru bewarna kuning yang (dalam interpretasi lakon Bima Suci) berarti menghambat daya ciptanya. Namun ini dapat pula dilihat sebagai ketidaksadaran pembuat film atas tafsir pencapaian Aquaman dengan trisula emasnya. Puncak pencapaian yang didominasi warna kuning seolah menunjukkan bahwa Aquaman sangat mungkin akan sama destruktifnya dengan Orm ketika memimpin, dan memang seharusnya tidak ada yang dapat menjamin bahwa Arthur dapat berkuasa dengan baik dan adil di kemudian hari. Ke-lebay-an film yang sejak awal menawarkan narasi bahwa Arthur Curry digadang-gadang sebagai pahlawan yang akan mendamaikan dunia daratan dan lautan hanya karena dia berdarah campuran dapat saja dipatahkan sendiri oleh filmnya.

Kesadaran bahwa sebagian kisah Lakon Bima Suci mendapat tafsir secara audio-visual melalui film Aquaman adalah juga bagian dari nguri-uri kearifan lokal kita. Seperti halnya Yasadipura yang di satu sisi memenangkan pandangan konservatif Kyai Anom dalam Serat Cebolek, tetapi di sisi lain beliau juga sangat berhasil membuat lakon Bima Suci yang sejatinya analogi ajaran hakekat manunggaling kawula-Gusti ini diperbincangkan, dipertunjukkan dan dipelajari masyarakat secara luas. Maka, jangan hanya berhenti menonton Aquaman, tetapi perkaya diri kita dengan kisah-kisah dari mitologi kita sendiri untuk menafsirkan produk Barat. Atau mau menunggu lakon Bima Suci ini diklaim Malaysia dulu? Ingat James Wan ini orang Malaysia lho!

Referensi:
Kahija, Yohanis Frans La. (2003). Menerobos Kelengangan, Penelitian Psikostruktural-Semantis terhadap Ekspresi Pengalaman Mistis dalam Lakon Bima Suci. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro.
Bizawie, Zainul Milal. (2014).
Syekh Mutamakkin, Perlawanan Kultural Agama Rakyat. Tangerang: Pustaka Compass.

Penikmat film & buku. Pendiri sineroom, kolektif sinema yg berbasis di Semarang. Akan menilik ulang film dan buku yang pernah dinikmatinya di platform ini.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store